13 Desember 2009

Soal Pelayanan Rumah Sakit

Perlu ditegaskan, tulisan ini tidak bermaksud untuk menyanjung-nyanjung soal pelayanan rumah sakit di negeri orang, lalu memburuk-burukan pelayanan rumah sakit di Indonesia. Tidak! Tapi, bila tulisan ini dijadikan sebagai perbandingan dan bahan evaluasi bagi kita, khususnya rumah sakit di Indonesia, mungkin iya. Dengan harapan, kasus seperti yang dialami oleh Prita Mulyasari dan banyak keluhan masyarakat lainnya soal pelayanan rumah sakit di Indonesia tidak terjadi lagi, atau setidaknya, dapat berkurang.

Pelan-pelan, disadari atau tidak, negeri Melaka mulai menjadi pusat perobatan yang terpandang di Asia Tenggara. Tidak hanya mereka yang dari Kuala Lumpur atau kenegerian Malaysia lainnya yang berobat di sana. Tapi, dari negara tetangga lainnya, seperti Singapura, Thailand, Filipina, bahkan Indonesia, mulai berdatangan ke sana untuk persoalan medis dan kesehatan. Kenapa orang berdatangan ke sana? Ada apa sebenarnya dengan rumah sakit di Melaka?

Berikut ini hasil penilaian saya sendiri, dan tentunya, dengan indikator yang saya tetapkan (rasakan) sendiri.

1. Registrasi dan Administrasi
Saat mendaftar, semua proses berjalan dengan segera dan ringkas. Tidak ada antrian panjang. Tidak ada yang berbelit-belit. Tidak ada yang didahulukan dan dikemudiankan oleh sebab perlakuan istimewa. Kecuali pasien dengan kondisi kritis dan amat mendesak. Semua dilayani sama sesuai porsi masalahnya, baik bangsa Malaysia sendiri maupun bangsa lain. Malah terkesan aneh kalau ada yang tidak tertib.

2. Diagnosa
Pemeriksaan penyakit demikian juga. Selesai dari registrasi, langsung saja disuruh menemui dokter terkait, tanpa harus menunggu lagi. Di ruang dokter juga tidak terjadi antrian yang lama, padahal pasiennya banyak. Pemeriksaan dilakukan dengan segera dan teliti. Kadang sampai beberapa kali bolak-balik ke ruangan diagnosa untuk mendapatkan data yang pasti tentang penyakit yang diderita. Hanya dalam hitungan dua jam setelah itu, telah diketahui secara yakin semua penyakit yang diderita. Dokter pun dengan sangat cepat mengambil keputusan penanganan, tanpa ragu-ragu.

3. Dokter Tidak Bertindak Asal-Asalan
Saat pertama datang, boleh saja pasien hanya mengadukan satu jenis penyakit saja yang terasa diderita pasien tersebut. Misalnya, pasien hanya mengadukan penyakit batu ginjal saja. Tapi, setelah dilakukan diagnosa, sering ditemukan penyakit lainnya yang kadang lebih parah dan mendesak terlebih dahulu untuk ditangani. Ternyata juga terdapat, misalnya, radang lambung yang menyebabkan Hemoglobin pasien rendah, jantung, atau bahkan strok ringan akibat tekanan darah tinggi. Mengetahui hal yang demikian, dokter segera menghubungi dan meminta dokter lain yang terkait penyakit tersebut untuk lebih dahulu ditangani. Koordinasi antar dokter tentang data dan penangan pasien sangat solid sekali. Tak jarang, satu pasien kadang ditangani sampai oleh tiga atau empat dokter dengan keahlian berbeda sekaligus, tergantung jumlah penyakit yang diderita pasien.

4. Dokter
Selama di rumah sakit, dokter senantiasa memantau perkembangan pasien dengan datang sendiri ke kamar pasien. Dalam sehari, pasien dikunjungi 4 sampai 5 kali. Kalau kondisinya kritis, pasien dipantau hampir setiap jam oleh dokter. Bahkan, pada malam hari, dokter menyempatkan diri dulu untuk melihat pasiennya sebelum pulang ke rumah. Perhatian dokter yang demikian sangat menenangkan psikologis pasien. Dokter terasa sangat bertanggung jawab atas kondisi pasien. Dokter yang sangat mencintai dan menikmati profesinya selaku dokter. Selama jam kerja, dokter tetap berada di rumah sakit, sehingga kita dapat melaporkan sesuatu kepada dokter kapan saja. Prilaku dokter yang seperti ini yang jarang ditemui di rumah sakit Indonesia.

5. Perawat
Selama pasien diinapkan, perawat tidak hanya sekedar melakukan pelayanan medis belaka. Perawat juga berlaku bak keluarga sendiri; bercerita dan bercanda dengan pasien. Bahkan menghibur kala pasien tampak sedih dan cemas.

6. Kondisi Ruangan
Soal ini, sebenarnya relatif. Mungkin lebih banyak kondisi ruangan rumah sakit di Indonesia yang lebih baik bahkan lebih mewah ketimbang di sana. Hanya saja, kondisi ruangan ditata sedemikian rupa sehingga hampir hilang kesan orang yang sedang berada di sana sedang berada di rumah sakit. Tidak ada bau obat-obatan, dan lain-lain.

7. Keramahan
Saat pertama datang, keramahan telah dimulai, hingga meninggalkan rumah sakit. Kondisi ini yang membuat orang yang pernah berobat di sana rindu untuk datang kembali ke sana.

8. Biaya
Pengalaman saya menemani ayah saya berobat di sana adalah di rumah sakit swasta. Menurut penuturan orang di sana, rumah sakit itu adalah rumah sakit terdepan dan termahal di sana. Soal biaya, bila dibandingkan dengan rumah sakit umum di Indonesia tentu saja lebih mahal. Akan tetapi, bila dibandingkan dengan biaya rumah sakit swasta di Indonesia, tak terlalu jauh berbeda.

9. Hasil Pengobatan
Nah, ini tujuan final pasien datang ke sebuah rumah sakit; kesembuhan. Soal hasil, tentu saja ada pada ketentuan Tuhan. Namun, sebuah penanganan yang baik, tentu akan membuahkan hasil yang baik pula. Jarang terdengar keluhan soal hasil pengobatan di sana. Rata-rata, hasil yang didapatkan orang setelah berobat di sana berkisar pada rentang “memuaskan” sampai “sangat memuaskan”. Saya nilai, ini disebabkan bukan hanya karena penanganan medis yang baik, tapi juga “pelayanan psikologis” yang baik.

Pada satu sisi, ini adalah berita gembira. Namun, di lain sisi, ini juga ancaman. Tidakkah kita khawatir, seandainya banyak orang Indonesia mulai berpikir pergi ke Melaka saja untuk berobat, karena tak ada lagi kepercayaan pada pelayanan rumah sakit di Indonesia.

Tidakkah ini sebuah pelajaran, bahwa kita harus mulai berbenah diri? Tidak perlu takut untuk jujur dan mulai belajar memperbaiki diri mulai dari sekarang. Bukankah mereka, bangsa Malaysia itu, dua puluh tahun yang lalu juga belajar dari kita bangsa Indonesia?

KONSULTASI BISNIS
Bagaimana Menemukan Ide dan Memulai Bisnis Anda?
Silakan menuju ke "RUANG KONSULTASI". Klik Disini!!

33 komentar:

alamendah mengatakan...

(maaf) izin mengamankan PERTAMA dulu. Boleh kan?!
Keknya bukan hanya pelayanan di bidang kesehatan, hampir disemua bidang kita tertinggal dengan negara-negara lain. Negara2 yang dulunya belajar dari kita.
Tanyakan kenapa?

hpnugroho mengatakan...

selama pejabat masih memikirkan perutnya sendiri, sepertinya negara ini akan sulit berkembang, dimana KKN sudah mendarah daging ...

arkasala mengatakan...

Barusan saya membaca di KutuBacaBuku tentang kemunduran kita di bidang Olah Raga. Diingatkan olehnya Seagames sama sekali tidak ada gaungnya saat ini. Perolehan medali negeri ini sudah tidak lagi dilirik.
Bisa jadi kasus ini sama dengan pelayanan kesehatan kita. Mengalami kemunduran. Saya mengalami ketika anak saya yang kedua berhubungan dengan rumah sakit, jika isinya adalah emosional saat itu ya .... repot juga antara mengikhlaskan dan menyayangkan menjadi benturan yang hebat.
Saya setuju dengan Kang Alam, Banyak ketinggalan dalam pelayanan publik. Mungkin mental SDM kita secara keseluruhan yang perlu diperbaiki. Kita belum siap sebagai pelayan publik dijadikan tujuan utama. Secara personal mungkin beberapa siap. Namun jika sudah kolektif kayaknya kok jauh panggang dari api. Slogan dan pepatah "sebaik-baik manusia adalah bermanfaat bagi orang lain" adalah hanya penghias bibir ketika kita harus bergaya secara verbal. Termasuk di sektor kesehatan.
Saya tersentuh dengan tulisan Mas Khery karena saya merasakan ketika anak saya meninggal di salah satu rumah sakit sampai saat ini saya tidak tahu penyakitnya apa. Dan saya jadi bloon jika sudah berhadapan dengan rumah sakit. Kayak orang linglung. Dulu saya ingat banget ketika membahas sebuah skripsi kawan berjudul "Peran Rekam Medik dalam Perjanjian Terapeutik antara Dokter dan Pasien", semua bisa diperdebatkan di kampus. Ketika di rumah sakit, teori itu jadi hilang dari kepala. Tak terucap apapun.
Jadi saran saya jauhilah berurusan dengan hukum dan rumah sakit. Artinya berusaha menjadi orang baik dan sehat saja ya Mas. Semoga.
Amiiin :)
(Maaf kepanjangan Mas, malah curhat jadinya)
Salam

Khery Sudeska mengatakan...

@alamendah: Saya setuju itu, Mas Alam. Kita sudah sangat jauh tertinggal dalam banyak hal. Satu penyakit akut kita, kita malah cenderung masa bodoh pada hal2 yang seperti ini. Alih-alih merasa tertinggal, kita malah mencoba mencari celah untuk menegakkan benang basah. Bukannya intropeksi diri. :(

@hpnugroho: Itu juga salah satu penyakit lain bangsa ini, Mas Nug.

@arkasala: Duh, ternyata Kang Yayat punya pengalaman pahit soal berhubungan dgn rumah sakit. Tidak apa2, Kang. Silakan curhat atau bahkan ditambahkan lebih banyak lagi dari referensi yang lainnya. Sebab, lembaran komentar ini tentu saja merupakan satu kesatuan dengan isi postingan. Yah, mudah2an kita tak banyak berurusan dengan persoalan hukum dan rumah sakit ini, Kang. Amin... :)

Rudy mengatakan...

pelayanan memang faktor utama Mas, hanya karna soal pelayanan yang tidak memuaskan banyak pasien harus rela pergi keluar negeri.
Itu juga yang terjadi pada Ibu saya yang bulan lalu harus menjalankan operasi kanker payudaranya ke Malaka sana Mas, padahal dari segi kualitasnya dokter/rumah sakit di negeri kita nggak kalah kok.
Tapi segi pelayanan itu yang menjadi faktor utama..

bluethunderheart mengatakan...

mensuportmu kawan
salam hangat selalu

bhogey mengatakan...

gmn caranya ya bangsa kita mau berbenah diri

Ruang Hati mengatakan...

Salam kenal, bahagia bisa mampir kesini dan bisa diperkenankan meninggalkan sepatah dua patah tiga patah kata
==================

Blog Walking malam hari di penghujung pekan, mengais ngais ilmu dari para sahabat, mencari sesuap pengetahuan dan segenggam persaudaraan salam ketulusan dari ruang hati ku

================

sayangnya banyak rumah sakit dan pelayanan kesehatan sekarang lebih mengutamakan money orientednya daripada pelayanan manusiawi nya

Khery Sudeska mengatakan...

@Rudy: Ya, betul, Bang. Service itu yang kurang pada kita. Gimana Ibu Abang setelah kesana? Mulai membaikkah? :)

@blue: Thanks, Blue :D

@Bhogey: Dengan niat baik, kemauan yang keras, serta usaha yang sungguh2 tentunya. Tampak klise dan mudah diucapkan. But, sangat berat dijalankan... :)

@Ruang Hati: Sama2, Mbak. Senang telah diijinkan singgah sejenak di ruang hatimu, sekedar untuk berbagi. :)
=================
Ya, terkadang memang demikian :)

Hariez mengatakan...

sayah malah takut kalo udah nyangkut yang namanya RS inget sobat blogger kita :-t

selamat malam & selamat beristirahat

-salam- ^_^

Dangstars mengatakan...

Betul sekali untuk kerumahsakit yg kita cari adalah pelayanannya.. dulu..
semoga artikel ini menjadi penggerak untuk kemajuan rumahsakit di Indonesia :D

BlogCamp mengatakan...

Nah, ini sekarang bisa komentar disini.duh senengnya.
Pelayanan kita disegala bidang memang perlu ditingkatkan mas.Kang kita dianggap enteng oleh petugas jasa pelayanan umum. Tapi kepada orang asing mereka malah bongkok-bongkok.
Lagi-lagi SDMnya mesti banyak belajar hal2 yang baik.
Terima kasih informasinya.
Salam hangat dari Surabaya

tukang Ndobo$ mengatakan...

Semoga kedepannya utnuk pelayanan public bisa menjadi semakin baik

Khery Sudeska mengatakan...

@Hariez: Siapa tuh? :D

@Dangstars: Mudah2an saja, Pak Dadang :D

@BlogCamp: Kalau sudah demikian kenyataannya, apanya yang salah tuh, Pakde? Hehehe... :)

@tukang Ndobo$: Mudah2an. Amin...

bundadontworry mengatakan...

saya setuju sekali dgn uraian yg ditulis diatas,krn saya mengalaminya sendiri, sewaktu hrs mengantarkan ibu saya berobat ke Malaysia di rumah sakit jantung disana.
kita hendaknya mengambil sisi positif yg bisa ditiru utk diterapkan di negeri kita ,baik utk rumah sakit negeri maupun swasta.
secara garis besar yg kurang dlm pelayanan di sini adlah sisi human touch nya ya.
Pasien masih dianggap komoditi utk mendapatkan uang tanpa hrs mendapatkan pelayanan yg terbaik, ironis memang.
Maaf terlalu panjang komennya, Mas...........
salam.

nakjaDimande mengatakan...

Belajar hal baik dari siapa saja, itu harus ya sudeska.. btw gravatarmu ganti yaa, sedih banget keliatannya

Wandi thok mengatakan...

Mohon mangap mas, sekarang ini saya baru nyoba speedy milik sekolahku untuk komeng di sini.

Guru Go!Blog mengatakan...

Hmmm... dari speedy ya inyak banget mas, blang bleng kayak mo ngegolkan

Mariska Ayu mengatakan...

Rumah sakit di Indonesia memang payah ya kak?

Khery Sudeska mengatakan...

@bundadontworry: Nggak apa2, Bunda. Lebih panjang lebih baik. Lembaran komentar ini kan merupakan satu kesatuan dengan posting. Saya suka dengan tambahan2 pendapat. Meski pendapat yang berbeda sekalipun. Betul, Bunda. Hal-hal yang baik dan berguna tak ada salahnya kita belajar. Kalau tidak, sampai kapan kita pertahankan kelemahan kita yang sudah nyata-nyata sekali. Tak akan ada keluhan kalau tak ada yang ganjil dalam sebuah siklus kehidupan. :)

@nakjaDimande: Setuju sekali, Mande. Kenapa harus malu untuk belajar mengoreksi kelemahan kita, lantas perlahan2 mulai memperbaiki diri. Bukan begitu, Mande? Dan saya yakin, tulus dan ikhlas, sebagai seorang dokter Mande adalah pengecualian. Mande adalah salah satu dokter yang terbaik yang dipunyai bangsa ini. Semua itu tercermin dari curahan kasih sayang Mande dalam tulisan2 di blog Mande. :)

@Wandi Thok: Makanya, yang salah itu bukan blog saya, tapi koneksi internetnya Ustadz. Ni buktinya bisa berkomeng ria disini. :D :))

@Guru Go!Blog!: Enak to? Mantep to? =))

@Mariska Ayu: Soal itu, Mariska dan banyak masyarakat Indonesia lainnya tahu sendiri deh. Kita harap, meski pelan2, ada perubahan ke arah yang lebih baik. Ya to? :)

ruanghatiberbagi mengatakan...

Jadi inget ama rumor : "Pantesan aja bayar dokter mahal wong kuliahnya juga Naudzubillah mahalnya, balik modal kale"...
Tapi moga2 dokter2 kita ndak segitunya yach...juga begitu juga rumah sakitnya.

arkasala mengatakan...

wakakak, mas wandi kena teguran :)

suwung mengatakan...

kapan indonesia terlepas dari itu semua? kalo kita sendiri diam?

tetenw(blog sehat) mengatakan...

Iya ya Mas ... Rumah sakit kita terlalu banyak memandang bisnisnya dibanding socialnya ...
Mudah-mudahan banyak tenaga medis yang membaca posting ini ..

Sangat membangun ...

sobatsehat mengatakan...

mas sudeska...ini penilaiannya sangat konstruktif sekali.. lengkap dan saya pikir ini relevan dengan keadaan sekarang dimana pelayanan merupakan sesuatu keharusan yang mesti dikedepankan. walaupun masih ada beberapa rumah sakit di negeri ini yang memberikan pelayanan yang asal-asalan atau bahkan mereka tidak menerima pasien yang tidak mampu.

ammadis mengatakan...

Perbandingan yang membuat kita makin sadar...betapa negeri ini perlu keajaiban utk merombaknya...uuuukh....kapan bisa lebih baik lagi yaaaa...????

Action Figure Toy mengatakan...

wah...bener-bener nyaman yah
kalo gitu jadi sama-sama ada saling menghargai dan membutuhkan yah mas
tuh top quality hospital with good human resources

pasutrisatu mengatakan...

idealnya pelayanan RS kayak RS tetangga sebelah..RS Indonesia diakui atau tidak sebenarnya gak kalah, hanya saja krn mentalitas oknumnya nih yg minus, jadinya pelayanan ikut minus..marilah kita tetap bersabar dan berdoa untuk kebaikan seluruh komponen masyarakat Indonesia Tercinta!

mamah aline mengatakan...

setuju banget dengan tulisannya, mewakili pandangan saya yang sama pada layanan kesehatan di Indonesia

candradot.com mengatakan...

sepertinya tidak hanya rumah sakit mas...
ngurus KTP aja repot banget

wempi mengatakan...

ternyata pake blogspot, pantesan susah ngomen disini. di tempat kerja akses ke blogspot sudah diblokir walupun pada jam istirahat. :(

Kalo bukan begitu bukan indonesia namanya, biar terkenal gitu loh. :))

belajar bisnis internet | hill mengatakan...

mudah2n dengan adanya "koin keadilan utk prita"bisa menggungah pelayanan RS di Indonesia pd umumnya utk melakukan penanganan yg lebih baik. sy tidak mempunyai rasa pesimis sedikitpun trhadap negeri ini,pasti smday akan menjadi negeri yg di perhitungkan lag seperti dulu. bukan begitu kawan :D, ayo mari kita majukan sama2 negeri ini supaya jgn selalu tertinggal dr negeri tetangga.

NB : di Jkt ada patung baru berupa Obama(presiden us). itu bukti bahwa bangsa kita msh bangga akan bangsa lain. padahal bangsa sendiri lebih layak dan sangat layak utk dijadikan monumen bersejarah.banyak pahlawan kita yg jauh lebih baik dibandingkan obama...lahh ko ngelantur :D

salam
hill

IwanKus mengatakan...

jadi pusing kalo mikir itu mas...
masalah2 seperti ini kayaknya belum akan teratasi dalam waktu dekat...
semoga kita selalu sehat saja deh...

:)) :)] ;)) ;;) :D ;) :p :(( :) :( :X =(( :-o :-/ :-* :| 8-} ~x( :-t b-( :-L x( =))

Posting Komentar

Bagi sahabat-sahabat pembaca yang belum mempunyai Blog, anda tetap bisa berkomentar/bertanya disini. Caranya, pada "Select frofile..." pilihlah Name/URL. Tulis pada kotak Name dengan Nama Anda, dan kotak URL anda kosongkan saja. Tuliskan komentar/pertanyaan anda di dalam kotak komentar, lalu Poskan Komentar anda.

 
© Copyright by Blog Khery Sudeska  |  Template by Blogspot tutorial