05 Oktober 2009

Mulai Membina Masyarakat Agar Tanggap Terhadap Bencana Gempa Bumi. Sekarang Juga!

Saya bukanlah seorang ahli dalam hal Meteorologi dan Geofisika. Dan, tulisan ini, juga tidak bermaksud menerangkan secara ilmiah tentang bagaimana gempa bumi itu terjadi. Tulisan ini, tak lebih, hanya sebagai sebuah ajakan kepada kita semua (khususnya, Pemerintah Indonesia dan seluruh pihak terkait) untuk sudah mulai, sejak sekarang juga, membina masyarakat agar tanggap terhadap bencana gempa bumi ini.

Gempa bumi yang mengguncang Sumatera Barat pada sore Rabu itu, 30 September 2009, di daerah Pariaman dan Padang serta sekitarnya, adalah gempa bumi terbesar sepanjang catatan gempa bumi yang pernah terjadi di Pulau Sumatera.

Gempa itu, tak hanya mengguncang bumi (earthquake). Lebih dari itu, gempa itu telah mengguncangkan hati kita (heartquake). Raung ketakutan anak-anak itu, tangis ibu-ibu itu, segala korban dan kerugian, telah menjadikan gempa itu sebagai salah satu Catatan Kebangsaan yang pedih di negeri ini.

Tak ada tempat yang aman di Indonesia ini dari potensi bencana gempa bumi, kecuali Pulau Kalimantan. Itu pun menurut para ahli di bidang ini, bukan menurut Tuhan. Jadi, kalau sudah demikian, bagaimana caranya?

Jepang, adalah negara kepulauan yang secara geologis persis sama dengan kepulauan Indonesia. Lempeng Samudera Pasifik yang bergerak ke arah barat laut, menunjam di bawah lempeng Eurasia di timur. Kondisi tunjaman ini, sama dengan tunjaman lempeng Samudera India–Australia di bawah lempeng Benua Eurasia sepanjang lepas pantai bagian barat Pulau Sumatera hingga selatan Pulau Jawa. Tunjaman yang panjang ini, dinamakan para ahli di bidang ini sebagai Sunda Megathrust (Tunjaman Besar Sunda).

Langsung saja. Apa yang dilakukan bangsa Jepang dalam meminimalisir resiko bencana gempa bumi?
  1. Penataan ruang. Sudah harus dimulai sejak kini penataan ruang yang tepat dalam pembangunan fisik; gedung-gedung, jalan, tiang listrik, dan sebagainya. Sehingga, sewaktu bencana datang, runtuhan bangunan tidak menimbulkan korban yang lebih banyak. Harus ada jalur-jalur alternatif buat warga untuk menyelamatkan diri secara aman. Membangun rumah di pinggiran bukit dan tebing pada daerah rawan bencana juga harus dihindari. Membangun gedung-gedung yang tahan gempa pun harus dimulai.
  2. Pemberian kode bangunan. Kalau penataan ruang kita sudah terlanjur tidak memenuhi syarat untuk meminimalisir bencana, pemberian kode terhadap bangunan yang tahan dan tidak tahan gempa harus ada. Disertai pula peringatan dan petunjuk untuk menyelamatkan diri bila bencana datang pada setiap ruangan.
  3. Pembinaan masyarakat agar tanggap bencana. Masyarakat yang berada pada daerah rawan bencana harus dibina agar berprilaku tanggap dan siap siaga terhadap bencana. Bersikap waspada bukan berarti tidak tenang, namun tahu apa-apa yang harus dilakukan sewaktu bencana datang agar selamat. Mematikan kompor dan peralatan listrik yang masih menyala terlebih dahulu, kemudian berlindung di bawah meja yang kuat.
  4. Membuat meja-meja yang kuat pada setiap rumah. Ini mungkin lucu. Tapi, masyarakat Jepang telah membuktikan. Sewaktu gempa bumi datang, berlarian ke luar rumah ternyata lebih beresiko terkena runtuhan bangunan dan tiang listrik. Berlindung di bawah meja yang kuat ternyata lebih aman dari runtuhan atap rumah dan lemari. Di bawah meja itu telah tersedia jauh-jauh hari segala peralatan yang cukup; senter, lampu, baju, dan makanan tahan lama. Ini berguna untuk bertahan sebelum bantuan tiba.
  5. Prediksi dan Early Warning System serta peringatan hari bencana. Harus ditetapkan satu hari sebagai hari bencana gempa bumi. Masyarakat Jepang, memperingati 1 September setiap tahun sebagai hari bencana gempa bumi dengan membunyikan sirine panjang tanda gempa bumi datang. Mendengar sirine itu lalu masyarakat, anak-anak TK, SD, dan guru-gurunya berlarian berlindung di bawah meja. Meskipun dilakukan sambil ketawa-ketawa, tapi ini berguna untuk membentuk prilaku masyarakat (pelatihan) untuk tanggap terhadap bencana gempa bumi. Pada hari peringatan bencana itu, do’a-do’a juga dipanjatkan di kuil-kuil di Jepang. Jadi, disamping membentuk prilaku tanggap bencana, juga membentuk kesadaran rohani masyarakat.
  6. Penyiapan sarana evakuasi pada daerah rawan bencana jauh-jauh hari. Mobil-mobil, alat-alat berat, dan segala fasilitas evakuasi bencana sudah harus disiapkan jauh-jauh hari sebelum bencana datang. Ini berguna agar masyarakat yang tertimbun runtuhan bangunan (yang tadinya berlindung dibawah meja) cepat diselamatkan tanpa menunggu berjam-jam, atau bahkan berhari-hari.
  7. Pembinaan masyarakat yang tanggap bencana secara menyeluruh. Manusia adalah makhluk yang tidak tetap berada pada suatu tempat saja. Misalnya, saya saat ini tinggal di Pekanbaru. Secara geologis, tingkat kerawanan kota Pekanbaru terhadap gempa bumi mungkin lebih ringan daripada kota Bukittinggi dan Padang, mengingat posisi kedekatan Bukittinggi dan Padang terhadap tempat tabrakan dua lempeng Samudera India-Australia dengan Benua Eurasia tadi (ini menurut pengetahuan manusia, belum tentu menurut Tuhan). Meski demikian, saya harus tetap dididik untuk tanggap bencana gempa bumi. Sebab, bisa jadi saat gempa bumi terjadi di Padang, saat itu saya sedang berada disana. Kalau prilaku saya tidak tanggap, tentu tidak tahu cara menyelamatkan diri disana.
  8. Mungkin masih ada masukan-masukan lainnya yang diluar pengetahuan saya. Silakan pembaca dan teman-teman semua tambahkan di lembaran komentar di bawah ini.
Ini perlu disadari dan dilakukan. Karena, sampai hari ini, belum ada sebuah peralatan canggih yang mampu memprediksi secara akurat kapan dan dimana sebuah gempa bumi akan terjadi. Kita hanya baru bisa memetakan daerah-daerah rawan bencana.

Meski demikian, hasil pemetaan daerah-daerah rawan bencana ini, sudah merupakan hasil usaha yang luar biasa. Selanjutnya, prilaku tanggap dan kesiapsiagaan masyarakatlah yang harus selalu dibina secara terus-menerus, tak henti-henti. Tindakan inilah yang dinamakan persiapan prabencana. Rumusannya (Budi Brahmantyo - Pikiran Rakyat, 2006), resiko dan akibat sebuah bencana adalah perbandingan kekuatan bencana alam dengan kesiapsiagaan (ketahanan) masyarakat.

Resiko dan kerugian sebuah bencana alam akan tetap tinggi, jika memang kekuatan atau besaran bencana sangat tinggi, meskipun masyarakat siap siaga. Misalnya, pada kasus bencana Tsunami di Aceh pada tahun 2004. Namun, bencana sekecil apapun, akan menyebabkan resiko dan kerugian yang tinggi apabila kesiapsiagaan masyarakat rendah.

Oleh karena itu, di luar kuasa kita dalam menerima kehendak Sang Pencipta, disitu terselip juga keharusan untuk berusaha meminimalisir resiko bencana. Ada baiknya juga kita melakukan upaya-upaya yang dapat mengecilkan jumlah korban dan kerugian sebagai akibat dari sebuah bencana gempa bumi. Sehingga heartquake yang terjadi setelah itu, tak sebesar earthquake yang terjadi sebelumnya. Insya Allah...




(Posting ini, adalah kecemasan dan keprihatinan saya terhadap bencana gempa bumi yang sering menimpa Indonesia akhir-akhir ini. Khususnya, kepada musibah gempa bumi yang baru terjadi di Sumatera Barat dan Jambi, 30 September dan 1 Oktober lalu. Dan juga, kepada “Ibunda Bloggerku”, nakjaDimande di Bukittinggi. Saya sangat bersyukur, mendengar Mande dan keluarga baik-baik saja setelah gempa itu. Saya sangat mencemaskan Mande.)


KONSULTASI BISNIS
Bagaimana Menemukan Ide dan Memulai Bisnis Anda?
Silakan menuju ke "RUANG KONSULTASI". Klik Disini!!

44 komentar:

alamendah mengatakan...

(maaf) izin mengamankan PERTAMA dulu. Boleh kan?!
SEtuju sekali, Bro. Sebagai negara yang rawan gempa seharusnya kita mempunyai kesiapan dan sikap tanggap terhadap bencana ini. Kalau perlu dimasukkan saja dalam kurikulum sekolah.

Wisata Riau mengatakan...

ide cemerlang sobt.....n stuju banget.....
klu bisa kita bangu rumah atw gedung.. anti gempa... ok... lanjutkan...

belajar blog mengatakan...

Iya benar tuh...
harus dikasi pemahaman dan penyuluhan yang lebih tepat lagi

koleksi mainan mengatakan...

Perlu juga diingat soal bangunan
kenapa rumah orang jepang rata terbuat dari lapisan kayu
soalnya lebih aman
makanya mereka berani untuk berlindung di bawah meja makan ketika gempa

candradot.com mengatakan...

bener mas,
tapi kapan pemerintah kita bisa meniru jepang ya

sory mas, pas mas khery komen di blog saya,
saya lagi editing dan sedikit error.
jadi mas nyasar kesitu hehehe...
tp sekarang udah beres tuh

Khery Sudeska mengatakan...

@alamendah: Amankan saja, Mas Alam. Mumpung masih gratis :D
Saya setuju pendapat Mas itu. Tambahan yang sip banget itu, Mas... Tq :)

@koleksi mainan: Masukan yang sangat mantap, fren. Tapi ada juga persoalannya sekarang, hutan kita dah mulai habis. Perlu ada solusi yang akurat untuk itu. But, apa yang anda katakan is good... Tq... :)

@candradot.com: Nah, ini tugas kita bersama untuk mendesaknya, Mas. Dan membangun kesadaran bersama di antara kita semua bahwa kita ini tinggal pada bumi yang rawan bencana :)

belajar bisnis internet | hill mengatakan...

iy mudh2n dari semua aspek yg di sebutkan dlm point2 diatas mulai di aplikasikan di kehidupan masyarakat kita, terutama sikap cpt tanggap dlm menghadapi bencana, dan mudh2n lg ada pihak yg terkait dlm mengatasi bencana membaca artikel ini, supaya sosialisasi tanggap bencana bs segera dilakukan thd masyarakat :)

salam
hill

Rita Susanti mengatakan...

Minimalisasi bencana gempa pada poin nomor empat di atas dikenal juga dengan istilah mencari segitiga kehidupan, dimana pada saat gempa terjadi kita bisa berlindung ke dekat/bawah meja atau sudut lemari yang berbentuk segitiga yang kokoh di dalam sebuah bangunan.

Di atas semua persiapan teknik dalam penyelamatan ketika gempa terjadi, tentunya selalu ingat agar kita senantiasa mempersiapkan tingkat kesiapan spiritual kita dalam menghadapi bencana (kematian). Sehingga jiwa2 ini akan terasa selalu terlindungi oleh NYA, amiin.

syd mengatakan...

setuju ! masyarakat memang harus diberi kesadaran untuk lebih peduli ..

Andri Wiyasa mengatakan...

Masukan saya, perbaiki Aqidah dan Akhlaq masyarakat dan pemimpinnya. Jangan sampai lupa pada Sang Pencipta...

Saatnya bertaubat... Kiamat Sudah dekat... Semoga Allah melindungi kita semua...

wasyoko mengatakan...

kita yang ngak tertimpa turut prihatin ya mas.bantuan aja untuk meringankan beban mereka.semoga cepat teratasi.

andry sianipar mengatakan...

Himbauan bagi kita yang ada di daerah aman bencana agar segera memperbaiki diri,,
Soal gempa memang sudah di jelkaskan sejak dulu,Allah menjelaskan dalam surah Al Zalzalah.

arkasala mengatakan...

Menarik sekali mas Khery. Hal ini perlu adanya seruan tapi dari atas ke bawah. Lagi2 peran pemerintah sangat penting di sini yang harusnya lebih tanggap dan mudah meminta informasi dari berbagai pihak dus para ahli.
Trims atas artikelnya Mas. Salam

secangkir teh dan sekerat roti mengatakan...

indonesia harus banyak belajar dari jepang...

jepang saja negara kecil begitu sudah siap dengan gempa...

pemerintah seperti kebakaran jenggot sekarang, malu tidak bisa membina masyarakatnya

anung yusmar mengatakan...

salam persahabatan...

Apa yang mas khery sampaikan sangat bermanfaat dan mudah-mudahan bisa menjadi sebuah pembelajaran bagi masyarakat dan diperhatikan pemerintah.
Akan tetapi kita juga mesti melihat hakekat mahluk yang bernama manusia. Kadang kita tidak menyadari kesempurnaan kita dan kadang kita melebih-lebihkan kesempuranaan yang diberikan Allah kepada kita sehingga kita tidak pernah mau mengenal alam semesta atau menyepelekan aturan main dalam hidup sebagai mahluk dimuka bumi ini yang memang ada aturan yang harus dijalani...
Namun kita berdoa semoga ini hanya sebuah peringatan kecil dari Allah untuk kita dan segera kita tersadar akan apa yang sudah kita lakukan dimuka bumi ini. baca juga tulisan saya di KATA HATI

Terima kasih

heru mengatakan...

nice info mas, sangat bermanfaat, salam sukses selalu

HumorBendol mengatakan...

Kita gak bisa mencegah bencana, tapi yang bisa kita lakukan adalah meminimalis efek dari bencana itu.
Gitu kali ya?
hehe....

IwanKus mengatakan...

saya pernah lihat di tv baru2 ini...
di negara jepang yang sudah maju saja...
tiap bulan selalu ada latihan simulasi gempa mirip dengan yang anda tulis...
bisa gak ya ditiru di negara kita?

KangBoed mengatakan...

Manstaaaaaaaaaaaaaabbbbbbbbssssss

KangBoed mengatakan...

Tiada bosan bosannya mengajak sahabatku untuk melangkah....

“Demi Masa sesungguhnya manusia itu merugi”

Sebab tiadalah semua ini kecuali kembali kepada Fitrah Diri
Mari bersama kita saling mensucikan diri menuju Illahi Robby
Membersihkan diri melangkah menemukan diri sebenar diri
Mulai menghampiri DIA tulus ikhlas karena CINTA
Meraih keselarasan diri dalam Ketenangan Jiwa
Menjadi Manusia seutuhnya meliputi lahir bathin
Dahulu datang putih suci bersih
Mudah mudahan kembali suci putih bersih

Salam Cinta Damai dan Kasih Sayang
‘tuk Sahabatku terchayaaaaaaaank
I Love U fuuulllllllllllllllllllllllllllll

dony mengatakan...

ok tuh...

Pasang Iklan Gratis mengatakan...

Mungkin langkah-langkah yang seperti itu memang perlu diberikan oleh rakyat bangsa kita ya,
biar bisa menanggulangi bencana selanjutnya.
karena sekarang ini sudah sering kali bencana yang menghampiri negara kita.
semua memang perlu dipersiapkan.
Iklan Baris

Peluang Bisnis | Ricky mengatakan...

Saya mendukung tulisan ini mas khery, memang sudah saatnya pemerintah lebih gencar lagi mensosialisasikan penanganan terhadap berbagai bencana alam..
Terimakasih atas sharingnya mas khery

salam,

genial mengatakan...

yang no4 sepertinya percuma dan terkesan basa-basi dee kang.. soalnya kalo udah urusan di gedor dari bawah mah... aspal ajja bisa kebelah gmn yang cuma meja... heheheh... tp buat wanti2 sii... bisa bisa :)

Khery Sudeska mengatakan...

@hill: Semoga, Kawan... :)

@Rita Susanti: Betul, Rita. Trims atas masukannya :)

@Andri Wiyasa: Saya setuju, Mas Andri :)

@wasyoko: Ya, apa yang bisa kita bantu, bantulah segera...

@arkasala: Setuju sekali, Mas...

@anung yusnar: Sebuah masukan yang berharga, Mas :)

@HumorBendol: Ya, bergitulah maksudnya, Mas... :)

@IwanKus: Pasti bisa, Mas Iwan. Dan sebaiknya memang setiap bulan, seperti yang Mas bilang...

@KangBoed: Tengkyuuuuuu, Kang... I love you fulllllllll....

@Pasang Iklan Gratis: Betul, Mas...

@Ricky: Trims, Mas Ricky. Mudah2an harapan itu tercapai... :)

@genial: Kembali kepada rumusannya, "G". Jepang sudah membuktikannya. Cuma, kita belum tahu bagaimana kalo di Indonesia, mengingat kondisi bangunan kita. Mungkin perlu upaya/cara yang berbeda. Tentu perlu dikaji lebih dalam lagi. Ini kan namanya usaha untuk meminimalisir. Soal hasil, Tuhan juga yang paling menentukan...

GeLZa mengatakan...

Yap... seharusnya bangsa kita belajar dari Jepang yang sudah berpengalaman di bidang gempa....

LT13 mengatakan...

bagian mejanya saya setuju tuh...sekarang pemerintah sudah mensosialisasikan untuk bersembunyi di bawah meja (bahkan ada lagunya segala) tapi saya mikir apa mejanya orang indonesia cukup kuat??

ahmad mengatakan...

stuju banget.....

bundadontworry mengatakan...

Tentunya ke-8 poin diatas harus ada skejul pelatihannya , agar kita tdk lagi gagap menghadapi bencanayg tdk pernah memberi tahu kapan akan datang.
Salam.

gerrilya mengatakan...

setuju...indonesia yang termasuk rawan ini, masyarakatnya harus siap sedia menghadapi kemungkinan apapun. waktu kemarin lihat di TV, situasi-nya jadi kacau karena masyarakat nggak siap, dan memnag nggak ada sistem atau guidelines yang jelas untuk menghadapi bencana. sudah harus dimulai sekarang...

hafiid mengatakan...

Postingan artikel ini menurut saya juga sudah membantu sebagian masyarakat untuk bisa tanggap terhadap bencana gempa bumi.
SAran untuk tanggap terhadap bencana:
Gimana kalau dijadikan kurikulum di sekolah dasar?...:)

putra dan indah mengatakan...

harusnya ilmu bumi yang menyangkut mengenai bencana alam termasuk gempa bumi harusnya masuk dalam salah satu pelajaran kurikulum mulai SD

Abula mengatakan...

mitigasi bencana bagi kita (warga negara indonesia) benar2 perlu dan penting...
semoga kesadaran ini menjadi kesadaran bersama sehingga mempermudah dalam pelaksanaannya ..

kucrit mengatakan...

benul mas.. lebih baik mencegah daripada mengobati..
oh ya lupa mumpung masih sawal.. saya minta maaf lahir batin jika ada komen2 saya yang kurang berkenan di hati sampean..

KangBoed mengatakan...

Salam Cinta Damai dan Kasih Sayang
‘tuk Sahabatku terchayaaaaaaaank
I Love U fuuulllllllllllllllllllllllllllll

KangBoed mengatakan...

manstaaaaaaaaaaaaaaaaaabbbbs

fashion and style mengatakan...

memang patut dicontoh apa yang dilakukan negara sakura ini. saya juga pernah membaca jika mereka menggunakan semacam besi berbentuk spiral sebagai pondasi bangunan untuk meminimalisasi getaran pada saat gempa.

trieand mengatakan...

mempersiapkan mental dalam menghadapi gempa perlu juga loh... juga pasca terjadinya gempa.. nice post mas...

Kerja Keras Adalah Energi Kita mengatakan...

sedikit info untuk tanggap bencana ini di http://delenger.wordpress.com ada beberapa poin yang penting ketika terjadi bencana gempa bumi. Atas pengalamannya Kang Noe memberikan rincian kegiatan dan keperluan masyarakat yang tertimpa bencana. Trims Mas Khery. Salam

reez mengatakan...

ada baiknya kita selalu waspada menggingat Indonesia adalah daerah yang rawan bencana...

arkasala mengatakan...

Mas Khery, baru2 ini terjadi lagi gempa di Ujung Kulon (semoga yang terkena bencana diberi kesabaran dan kekuatan, amiiiin), tentunya seruan ini sangat bermanfaat.
Btw sekalian menyampaikan terima kasih sekali atas dukungannya Mas.
Salam sukses selalu :)

Khery Sudeska mengatakan...

@arkasala: Ya, Mas... Saya baru baca tadi sore di blognya KangBoed.

lukimengatakan...

q sangat setuju skli dg ajxan tersebut....
seharusnya, xt lbih siap siaga dlam xeadaan apapun.
dan xta perlu mendekatkan diri kepada Allah S.W.T...

Khery Sudeska mengatakan...

@luki: Betul sekali, Luki :)

:)) :)] ;)) ;;) :D ;) :p :(( :) :( :X =(( :-o :-/ :-* :| 8-} ~x( :-t b-( :-L x( =))

Posting Komentar

Bagi sahabat-sahabat pembaca yang belum mempunyai Blog, anda tetap bisa berkomentar/bertanya disini. Caranya, pada "Select frofile..." pilihlah Name/URL. Tulis pada kotak Name dengan Nama Anda, dan kotak URL anda kosongkan saja. Tuliskan komentar/pertanyaan anda di dalam kotak komentar, lalu Poskan Komentar anda.

 
© Copyright by Blog Khery Sudeska  |  Template by Blogspot tutorial