29 September 2009

Pengurangan Subsidi Pupuk di APBN 2010: Sebuah Peluang Bisnis Bagi Petani. Benarkah?

Jujur saja, agak berat bagi saya mencari korelasi rencana pengurangan subsidi pupuk pada APBN 2010 dengan sebuah peluang. Yakni, mengungkap celah dari kenyataan itu sebagai sebuah peluang bisnis bagi petani.

Sebagian anda saja, mungkin masih bingung dengan apa yang saya maksudkan. Bukan maksud saya merendahkan pemahaman anda. Bukan, sama sekali bukan. Saya tak pernah meragukan pemahaman anda. Hanya saja, soal yang satu ini, soal berbicara tentang nasib petani, adalah soal minat dan perhatian. Tak banyak orang yang berminat kalau sudah berbicara masalah petani dan pertanian.

Tapi, mudah-mudahan saja, dugaan saya salah.

Oke lah. Anda mungkin sudah dengar, bahwa akan ada pengurangan subsidi pupuk anorganik sebesar Rp. 6 - 10 triliun pada tahun 2010 dari Rp. 17,5 triliun pada tahun 2009. Cukup signifikan bukan? Apa sih alasan pemerintah melakukan pengurangan subsidi pupuk tersebut?


Yaaa..., menurut saya, alasan pemerintah cukup rasional dan pantas. Selisih harga yang cukup besar antara pupuk bersubsidi dan pupuk nonsubsidi selama ini, menjadikan pedagang menyelewengkan penjualan pupuk bersubsidi tersebut. Akhirnya, subsidi pupuk tersebut banyak yang tidak dinikmati petani. Bayangkan saja, misalnya harga pupuk Urea tahun 2009 ini, yang nonsubsidi (atau harga ideal) Rp. 3.000,-/kg, sedangkan yang bersubsidi Rp. 1.600,-/kg.

Cuma, diluar disparitas harga tersebut, sisi lemah tentu saja ada. Mekanisme pemerintah, dalam mendistribusikan pupuk bersubsidi selama ini, juga belum sepenuhnya maksimal. Menurut beberapa sumber, data tentang petani yang benar-benar pemilik perkebunan rakyat yang dimiliki pemerintah pun tidak akurat. Sehingga, tidak diketahui secara tepat data tentang kebutuhan pupuk yang sebenarnya.

Sudahlah itu. Sekarang, mari kita lihat peluang dari rencana pengurangan subsidi pupuk tersebut. Berkurangnya subsidi pupuk anorganik, tentu akan berimbas pada meningkatnya kebutuhan akan pupuk organik. Nah, ada yang melihat ini sebagai peluang bisnis bagi petani. Bukankah kebutuhan utama untuk pembuatan pupuk organik tersebut ada pada petani kita. Misalnya, mulai dari kotoran ternak, urin sapi, sampai kepada bahan pembuatan kompos, semuanya ada pada petani. Cuma, sejauh mana petani kita dapat melihat hal ini sebagai peluang bisnis? Adalah pertanyaan yang butuh penyelesaian yang panjang.

Kita tidak sedang mencoba merendahkan pemahaman petani kita soal bisnis. Justru kita sedang mencoba menaruh peduli akan kondisi petani kita. Saya yakin, sebagian besar petani kita tidaklah dapat melihat celah bisnis dari pengurangan subsidi pupuk tersebut. Kalaulah sudah demikian keadaannya, sebuah pekerjaan lagi yang mesti dilakukan. Yakni, memberikan pemahaman tersebut.

Pemahaman juga tidak bisa berhenti sebatas pemahaman saja. Pemahaman mesti pula diikuti dengan penyediaan sarana dan prasarana. Setidaknya, mesti ada infrastruktur pertanian yang menunjang perencanaan tersebut, seperti pabrik pupuk organik misalnya. Kalau tidak, kemana bahan-bahan pembuatan pupuk organik tersebut akan dijual oleh petani agar menjadi penghasilan bagi mereka.

Beruntung, pemerintah kita juga sudah memikirkan hal itu. Dan, di beberapa daerah, saya melihat, ada beberapa lembaga yang katanya merupakan “Lembaga Pemberdayaan Ekonomi Rakyak” yang bekerjasama dengan PT. PUSRI untuk produksi pupuk organik ini. Bahan-bahannya akan mereka beli langsung kepada para petani.

Namun, diantara harapan-harapan tersebut, tetap saja ada celah bagi kambuhnya penyakit lama bangsa ini. Menipu bangsa sendiri. Tidak tertutup kemungkinan, yang kita harapkan adalah peluang bisnis bagi petani, ternyata hanya peluang yang dimanfaatkan untuk keuntungan segelintir atau sekelompok orang. Petani kita, tetap nasibnya begitu-begitu saja. Pertanyaan yang muncul kemudian; benarkah ini merupakan peluang bisnis bagi petani?

Setakat ini, memang, kita harus memandang optimis atas rencana tersebut. Namun, perencanaan yang matang dan benar-benar berangkat dari hati nurani untuk meningkatkan kesejahteraan petani adalah sebuah kemestian. Peluang-peluang penyelewengan oleh segelintir orang haruslah ditutup serapat mungkin. Agar rencana ini berjalan sebagaimana yang diharapkan.


KONSULTASI BISNIS
Bagaimana Menemukan Ide dan Memulai Bisnis Anda?
Silakan menuju ke "RUANG KONSULTASI". Klik Disini!!

51 komentar:

Khery Sudeska mengatakan...

Pertamaxxx dulu, hehehee.... :D
Pakabar, sahabat2 tercinta semua? Gimana hari AIDIL FITRI-nya? Keren gak? :D

Saya baru nongol, nih. Disamping sibuk suasana lebaran, juga lagi sibuk nyiapin sesuatu, hehee... :D

Tunggu aja....!

O, ya... Once again, maaf zahir dan batin kepada semua :)

nakjaDimande mengatakan...

anak mande yang satu ini dah pasti selalu serius.. hanya mau nulis yang penting-penting saja.. aneh ya kok mande sama anaknya bisa beda begitu..^^

Khery Sudeska mengatakan...

Hehee... Mandeku... Masak iya, sih? Mande bisa aja :D

Biar ada keseimbangan kali, antara seorang anak sama Mandenya, hehehe... :D

hill mengatakan...

mudah2n pemerintah sekarang mulai berpihak pada petani yg selalu di "anak tiri" kan :)

www.hilmifirdaus.com

salam
hill

Rita Susanti mengatakan...

Semoga bukan sekedar perencanaan semata, namun akan ada tindak lanjut untuk semua peluang bisnis tersebut bagi para petani. Dan semoga juga bukan hanya semangat yang hanya membara di awal-awal dan kemudian menghilang tak berbekas.

Maafkan Lahir Bathin ya Bang...

alamendah mengatakan...

Soal pupuk seharusnya para petani kita mulai beralih menggunakan pupuk organik saja yang lebih murah dan ramah lingkungan.
Mungkin perlu dikampanyekan secara besar-besaran.

Khery Sudeska mengatakan...

@alamendah: Kalo soal itu, saya setuju, Mas Alam... :) Sip...

islamiccounseling mengatakan...

setuju....

candradot.com mengatakan...

ngomong2 soal pupuk....
waduh mas aku gak mudeng neh... hehhee

syd mengatakan...

Satu lagi peluang bisnis yang lahir karena keadaan :D

BudiTyas mengatakan...

Bibit2 berdikarinya petani thd pupuk sebenarnya sudah tumbuh kok, mulai dari pembuatan pupuk organik bareng di kelompok taninya. Pupuk langka kan bukan hal baru. Jadi klo memang subsidi dikurangi, mungkin itu langkah gradual yg baik, sebelum akhirnya dihilangkan sama sekali.

arkasala mengatakan...

Disatu sisi saya sepakat dengan Mas Khery, saya sulit memahami mengingat petani kita tingkat ketergantungan pada pupuk unorganik sangat tinggi. Sementara hasil produksi dan daya beli petani juga kelihatannya belum tersentuh perbaikan (analisa mentah hanya melihat daya beli tetangga di desa).
Namun ketika mudik kemarin saya sebetulnya tertarik dengan berkembangnya pertanian termasuk padi yang organik di daerah Sragen (sayang saya tidak mampir). Tentu saja ini adalah sekala kecil walau di kabupaten Sragen cukup marak. Sepanjang jalur dari Perbatasan Sragen sampai KebakKramat Solo berdiri jalur pertanian organik. Apakah ini maksud pemerintah sebuah peluang bisnis untuk mengembangkan secara "paksa" bisnis pertanian organik ?

Khery Sudeska mengatakan...

@candrado.com: dibaca dulu artikelnya, Mas Candra :D Gak ribet2 amat kok...

@BudiTyas: Untuk perkembangan yang demikian saya turut gembira, Mas BudiTyas :)

@arkasala: Saya sangat setuju rencana pemindahan pupuk anorganik ke organik ini, Mas Yayat. Selain ramah lingkungan, mungkin akan lebih hemat biaya. Cuma di beberapa daerah di luar Jawa, persoalan ini masih agak ribet. Beberapa sarana belum tersedia seperti di Jawa. Pemahaman petani pun masih kurang soal ini. Celah yang kurang sehat masih saja ada. Ini konsekuensi memang, bila kita kita ingin lakukan perubahan. Bagaimanapun, celah ini memang akan selalu ada. Ini yang perlu dikawal dengan ketat. Namun, sejauh ini, kita harus tetap optimis. Karena rencana ini merupakan rencana yang baik, yang harus disambut secara positif. Kepedulian dan perhatian kita semua sangat dibutuhkan :)

linduaji mengatakan...

ah ngantuk. mau pupuk siang dulu...

Rizal mengatakan...

Menurut sy petani kita lebih pantas menerima subsidi.,karena msh byk petani yg hidupnya sj susah apa lg ditambah harga pupuk yg mahal

bapakechilpii mengatakan...

ya betul.
harus ada pemahaman yang lebih bagi para petani dalam menghadapi situasi seperti ini. lalu pemberian pemahaman bagi mereka yang belum paham pekerjaan siapa?
mengapa dari dulu petani selalu dianggap golongan rendahan, padahal yang dimakan semua orang indonesia adalah hasil dari pertanian? apa gak takut diboikot para petani ya. coba kalau para petani kompak tidak bertani, atau bertani hanya untuk dimakan sendiri....?????

Khery Sudeska mengatakan...

@linduaji: Jangan keseringan "pupuk" siang, ntar badannya melar karna sering "pupuk" dan malas "berbuah"... Hehee :D

@Rizal: Semuanya punya sisi lemah dan sisi baik, Mas Rizal. Subsidi itu bisa saja dialihkan kepada pembangunan infrastruktur pertanian lainnya yang sangat menunjang bagi pertumbuhan ekonomi petani kita. Asal tepat sasaran saja...

@bapakechilpii: Anda punya perhatian yang bagus dan serius terhadap petani kita, Mas... Trims :)

sukamto mengatakan...

Pupuk organik memang baik untuk lingkungan, tapi kesulitannya adalah memberikan pemahaman kepada petani tentang manfaat pupuk organik dan merubah kebiasaan menggunakan pupuk anorganik ke pupuk organik. Karena selama ini petani tidak mau hasil panennya turun. Dan kalau menggunakan pupuk organik tentu hasil awalnya kecil tapi lama kelamaan hasil bagus dan baik untuk lingkungan. Maka yang terpenting memberikan kesadaran kepada petani tentang fungsi dan manfaat pupuk organik.

mel mengatakan...

bener tuh,,bikin pupuk organik aja,,leboh ramah lingkungan

wasyoko mengatakan...

bagus juga tuh.setuju, bikin kita jadi tambah kreatif lagi.permsalahan itu nanti sambil belajar dan berusaha.t rims

bidan desa mengatakan...

gimana kalo para blogger mengkampayekan pupuk organik biar tambah sip, jadi nanti para petani gak akan semakin terpuruk...

KangBoed mengatakan...

HADIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIRRRRRRRRRRRRRR..
Menyapa sahabatku chayank..
MAAF..
Baru jalan jalan dan keliling lagi..

salam sayang

KangBoed mengatakan...

HADIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIRRRRRRRRRRRRRR..
Menyapa sahabatku chayank..
MAAF..
Baru jalan jalan dan keliling lagi..

salam sayang

KangBoed mengatakan...

“Demi Masa sesungguhnya manusia itu merugi”

Sebab tiadalah semua ini kecuali kembali kepada Fitrah Diri
Mari bersama kita saling mensucikan diri menuju Illahi Robby
Membersihkan diri melangkah menemukan diri sebenar diri
Mulai menghampiri DIA tulus ikhlas karena CINTA
Meraih keselarasan diri dalam Ketenangan Jiwa
Menjadi Manusia seutuhnya meliputi lahir bathin
Dahulu datang putih suci bersih
Mudah mudahan kembali suci putih bersih

Salam Cinta Damai dan Kasih Sayang
‘tuk Sahabatku terchayaaaaaaaank
I Love U fuuulllllllllllllllllllllllllllll

dadangsupriadi mengatakan...

ya..gimana mau jadi petani sejahtera..
pupuk aja susah..

RoviYuyu mengatakan...

Yes, tulisan yang sangat berbobot.
Tks mas atas infonya.

Semoga petani2 kita benar bisa memanfaarkannya.
Kalau perlu, mas Khery dan pakar2 bisnis online lainnya mungkin bisa membantu melancarkan bisnis mereka via online. who knows?

Sukses mas!

netmildmengatakan...

wah menurtku si pemerintah harus dukung penuh langkah petani agar kemajuan dalam bidang ini akin maju..

coba kalo semua para petani gak mau jadi petani..

jadi bagaimana caranya pemerintah benar2 mendukung petani.

bundadontworry mengatakan...

Tulisan yg sangat berbobot dan sarat info yg detail.
Semoga kali ini pemerintah benar2 berpihak pd petani, amin.
Salam.

Khery Sudeska mengatakan...

@sukamto: Ini memang berat untuk tahap awalnya, Mas Sukamto. Tapi, mudah2an saja dengan niat baik dan kerja keras semua pihak hal ini secara pelan2 bisa terwujud dan berhasil dengan baik. Do'a dan partisipasi Mas Sukamto juga sangat dibutukan :D

@bidan desa: Saya dukung... :) Mbak bidan segera harus memulai di blognya, Gimana? :D

@KangBoed: I love you fullllllllllllllllllll selalu buat KangBoed :D

@dadangsupriadi: Jangan putus atas dulu, Mas Dadang. Hehehe... Semuanya pasti ada jalan keluarnya, asal ada kemauan :)

@RoviYuyu: Hehehe... Itu yang kayaknya mulai "diterobos" oleh Bang Joko Susilo, Pak Rovi dan Bu Yuyu. Mudah2an saja celah untuk itu pelan2 nanti mulai terbuka. Pak Rovi dan Bu Yuyu juga harus mulai untuk itu tuh, hehehe... Trims :)

@netmild: Kalo saya lihat, sebenarnya pemerintah cukup memikirkan akan perbaikan nasib petani ini, Mas M. Ismail. Cuma saja, sejauh ini, mungkin belum ditemukan langkah-langkah yang paling akurat. Masih try and error... :(

@bundadontworry: Makasih, Bundaku. Saya harap, dan tentu juga harapan kita semua, demikian adanya. Mudah2an saja terwujud :) Amin...

hariyanto mengatakan...

Salut Mas, mau-maunya peduliin petani. Di daerah kami petani biasa mengalami harga pupuk dan obat-obatan yang tinggi. Tentunya bibitnya jg. Sehingga begitu miss manajemen petani bukannya untung; tapi buntung. Bukan itu sj, faktor cuaca jg besar pengaruhnya; sehingga curah hujan tinggi dapat mengikis pupuk lebih cepat lagi; boros pupuk jadinya. Sy juga tidak bisa bayangkan jika harga pupuk naik lagi.....sementara kita paham bahwa harga sayur dan hasil panen petani bertahun-tahun jarang naiknya.....Peluangnya??? Terpaksa buat pupuk organik.....ok salam sukses mas.

Khery Sudeska mengatakan...

@hariyanto: Trims, Mas Hariyanto. Pendapat ini lengkap sekali. Saya jadi gak bisa nambahin lagi. Hehehe.... :D

Ok, Mas. Sukses juga untuk anda :)

Bisnis Online mengatakan...

Allow mas, ketemu lagi nih :)

Dinoe mengatakan...

Kadang2 program pemerintah sangat bagus..cuma ketika pelaksanaannya sering menyimpang.... Moga kali program pemerintah buat petani ini terlaksana dan dapat membantu perekonomian petani..

belajar blog mengatakan...

Para petani sekarang sengsara...
pas jamannya soeharto
mereka berjaya

koleksi mainan mengatakan...

Wah susahnya jadi petani bahkan sarjana pertanian banting setir kerja di Bank

Peluang Bisnis | Ricky mengatakan...

Tak heran artikel ini direview oleh pak joko, memang sebuah pandangan yang baik sekali mas khery.

Sudah saatnya petani mau berpikir lebih revolusioner mengenai tehnologi. Jika sudah bisa mencapai tahap itu, saya rasa mereka pasti bisa memperbaiki tingkat hidupnya,
Nice info mas,

Khery Sudeska mengatakan...

@belajar blog: Tidak sepenuhnya benar, sob :) Tapi, kejayaan petani pada era Soeharto harus juga menjadi faktor pertimbangan yang harus dipelajari buat kesejahteraan petani pada masa sekarang. Tak harus dipungkiri, era Soeharto tentu banyak juga sisi positifnya. Nice opinion, sob :)

@Ricky: Ini tugas Mas Ricky dan kita bersama untuk membantu petani kita tanggap akan teknologi. Hehehe... ya kan? Sebelumnya, penyediaan sarana teknologi (terutama internet dalam hal ini) di pedesaan oleh pemerintah juga harus digesa oleh para Blogger Indonesia. Ayo, Mas Ricky dan Kawan2 semua, mari kita mulai!!! :)

legimin mengatakan...

Yah di Sumatera Barat lagi kebagian gempa, rumah roboh rata sama tanah, sawah aja sudah habis untuk lahan perumahan, apa pupuk masih diperlukan mas, mayatnya masih banyak yang belum ditemukan.
Ya toh...
http://kumpul-kumpulduit.blogspot.com

genial mengatakan...

... tp sepertinya akan tetep ajja kang buat para petani... :( huhuuuu...

Pasang Iklan Gratis mengatakan...

Wah benar juga yah. sebenernya peluang bisnis bagi petani juga, tapi cuma mungkin para petani belum bisa menangkap ide itu.
orang tua saya juga petani. sepertinya petani juga perlu kenal bisnis juga ya hehehe...
Iklan Baris

belajar bisnis internet | hill mengatakan...

lama nih blm ada postingan terbaru :), lg sibuk ya kawan,ditunggu artikel terbarunya

salam hill

ajir mengatakan...

mantap gan infonya :D

Pudana mengatakan...

Salam mas, makasi atas kunjungangan mas di blog saya...
Memang usaha pemerintah untuk membantu petani cukup postitif, tetapi mungkin perlu tetap diupayakan bagaimana agar semua itu tidak jadi masalah baru, misalkan dalam pengurusannya yang memang sedikit birokratis, agar tidak dipersulit kembali....Bravo petani indonesia, sebagai insan mulia bekerja, menghasilkan untuk diri sendiri dan orang lain.

pelangi anak mengatakan...

Artikelnya berat neh...buat yang intelektual aja neh...he...he..h.e...saya kurang mengerti secara keseluruhan he..he..he...maklum lah, guru tk, bukan bidangnya he..he...heee

Salam kenal juga yah!

Khery Sudeska mengatakan...

@legimin: Trims atas kepeduliannya, Mas...

@genial: Maksudmu apa, "G"? :D

@Pasang Iklan Gratis: Saya gak perlu mengulasnya lagi kan, Mas? Hehehe... :D

@hill: Iya nih, Kawan. Tapi, barusan dah post tuh :D

@ajir: Tq, Jir... :)

@Pudana: Iya, fren... Perhatian sudah. Cuma mekanismenya mungkin masih try and error. Kepedulian dan perhatian kita semua sangat dibutuhkan dalam hal ini :)

@pelangi anak: Ah, gak begitu2 kali kok, Mbak. Saya bukan seorang ahli. Hehehe... Tulisan ini juga buat semua. Saya hanya sharing toh :)

Senang mengenal Mbak yang menyayangi anak-anak Indonesia. Semangat terus, Mbak. Saya justru salut sama Mbak... :)

IwanKus mengatakan...

heran deh dengan nasib petani...
di negara yang katanya negara agraris petani justru terpuruk...
bibit mahal, pupuk langka, hidup susah...
beda sekali dengan nasib para koruptor hehe...

Khery Sudeska mengatakan...

@IwanKus: Hehehe... Tau' tuh... Saya juga bingung, Mas Iwan :D

reez mengatakan...

Ayo... maju terus petani Indonesia...

itempoeti mengatakan...

selalu saja pemerintah membuat kebijakan yg tidak menjawab persoalan yang ada.
1. penggunaan pupuk anorganik dalam jangka panjang justru merusak unsur hara tanah. tanah menjadi keras dan produktifitas berkurang. kosekuensinya petani menambah penggunaan pupuk untuk meningkatkan produktifitas. implikasinya, biaya meningkat karena konsumsi pupuk meningkat. sementara harga jual cenderung tidak meningkat. walhasil, pendapatan petanki semakin menurun.
2. persoalan yang justru tak kalah penting adalah persoalan tata niaga dimana yang menikmati keuntungan justru adalah pedagang beras. dengan HPP beras rp.4.000,- per kg sementara harga di pasar mencapai rata2 rp.6.000,- per kg, siapa sesungguhnya diuntungkan? petani atau pedagang? disinilah letak ketidakadilan itu terjadi?
3. soal penataan ruang dan wilayah dimana kawasan-kawasan yg potensial untuk pertanian justru beralih fungsi menjadi kawasan-kawasan industri dan pemukiman. persawahan semakin sempit sementara kapasitas produksi semakin menurun. pemerintah harus tegas untuk mempertahankan kawasan2 sentra pertanian agar tidak beralih fungsi.
4. perbankan juga tidak berpihak pada petani. perbankan lebih menitik beratkan pada industri dan infrastruktur.

melihat ke 4 hal tersebut wajar jika petani kita nasibnya bagaikan tikus mati di lumbung beras.

jalan satu2nya untuk menyelamatkan petani dan pertanian kita adalah dengan melakukan AGRARIA REFORM.

salam hormat,
MERDEKA!!!

Love4Live mengatakan...

Mau komentar dah keburu diborong sama komentar yang diatas... hihihihi...
tapi intinya saya setuju dan mendukung komentar diatas...

salam anak bangsa!!!

orang tua berzikir mengatakan...

apa yang kau bersembahkan kepada alam ,menyuburkan jangan merusak nya.
mulai aja sendiri skala kecil mengajak langsung
petani ,kita ajari petani dengan diberi pupuk organik cair gratis ,kita pantau sambil diajari tahap demi tahap ,untuk percobaan satu ha dulu. karena belum ada internet kita pakai hp untuk memantau mereka.alhamdulilah

:)) :)] ;)) ;;) :D ;) :p :(( :) :( :X =(( :-o :-/ :-* :| 8-} ~x( :-t b-( :-L x( =))

Posting Komentar

Bagi sahabat-sahabat pembaca yang belum mempunyai Blog, anda tetap bisa berkomentar/bertanya disini. Caranya, pada "Select frofile..." pilihlah Name/URL. Tulis pada kotak Name dengan Nama Anda, dan kotak URL anda kosongkan saja. Tuliskan komentar/pertanyaan anda di dalam kotak komentar, lalu Poskan Komentar anda.

 
© Copyright by Blog Khery Sudeska  |  Template by Blogspot tutorial