14 Juli 2009

“Terpaksa Melahirkan Seorang Presiden”


Ada hal yang ingin saya sampaikan sebelum bercerita lebih jauh. Pertama, artikel di blog ini sedikit terlambat di up-date. Beberapa hari yang lalu, teman saya si Ariel patahati melaporkan sesuatu kepada saya di BlogCatalog. Dia bilang tampilan komentar Sudeska.Net bermasalah. Setelah saya cek, ternyata betul. Komentar yang satu tumpang tindih dengan komentar lainnya. Lalu saya coba perbaiki berkali-kali, tapi hasilnya malah tambah kacau balau. Lalu, saya putuskan saja untuk mengganti template. Inilah yang membuat pekerjaan meng-up-date blog ini menjadi lama. Saya coba beberapa template, tapi hasilnya kurang memuaskan saya. Tidak cocok dengan tema blog ini. Akhirnya, cari punya cari, keputusan akhirnya singgah di template miliknya Kang Rohman. Dengan sedikit modifikasi, akhirnya beginilah tampilan blog ini. Semoga saja anda suka. Ini masih tahap “BETA”, kemungkinan masih ada sedikit perubahan di sana-sini. Dan kepada Kang Rohman, saya ucapkan terima kasih atas templatenya.

Kedua, satu hari sebelum Pemilihan Presiden kemarin, saya ingin mem-posting sebuah tulisan dengan judul “Memilih Dengan Hati Nurani? Apa Hati Nurani Itu?”. Tapi jangan salah mengerti. Isi artikel itu tidak ada hubungannya sama sekali dengan Partai Hanura. Saya juga bukan anggota partai itu. He..he..he... Hati nurani yang ingin saya kupas di artikel itu adalah tentang sendi-sendi hati nurani berdasarkan tafsir Buya HAMKA dalam Al-Azhar tentang ayat-ayat yang membicarakan hati. Tapi, artikel itu urung diterbitkan karena masalah pertama tadi. Kalau saya terbitkan sekarang, rasanya tidak relevan lagi. Itulah susahnya kalau blog bertema ekonomi, politik, dan kebangsaan ini.

Oke. Cukup introduksinya. Lagian, tidak ada hubungannya sama kata kunci blog ini. Kita langsung saja masuk pada cerita judul ini.


Saya baca facebook-nya Pak Husnu Abadi, saya menemukan hal yang menarik di sana. Disitu Pak Husnu menulis,

Jumat malam (19 Juni 2009), saya hadir dalam acara pameran seni rupa dari pematung Sjamsul Makruf di Taman Budaya Mataram, Lombok. Ada sebuah patung, berupa ibu yang kurus kering yang sedang hamil. Dan hamilnya memang besar. Judul patung itu adalah “Terpaksa Melahirkan Seorang Presiden”. Dalam keterangannya Sjamsul menulis, “bahwa untuk jembatan Suramadu, memerlukan Rp.5,5 triliun, dan akan kita nikmati selama 100 tahun bila negeri ini mampu merawatnya. Sedangkan untuk menghasilkan seorang presiden, yang hanya selama 5 tahun, APBN harus menganggarkan Rp.9 triliun atau Rp.10 triliun. Oh, nasib negeri yang miskin yang punya selera besar dalam berdemokrasi ........”

Pendapat Sjamsul Makruf, bila mau kita nilai lebih jauh, masih terasa abstrak memang. Bahkan, bisa saja cenderung paradoksal, apabila presiden yang “dilahirkan” dari pesta demokrasi dengan biaya yang sebesar itu adalah benar-benar presiden yang berkualitas, yang mampu mengantarkan bangsa ini kepada cita-citanya. Biaya sebesar itu akan terasa kecil dan tidak sebanding. Tapi, Sjamsul akan menjadi benar, apabila yang terjadi adalah sebaliknya.

Nah, bagaimana penilaian kita? Tentunya berbeda-beda pula. Tidak dapat dipaksakan sama. Karena penilaian dipengaruhi persepsi, dan persepsi dipengaruhi oleh faktor personal dan faktor situasional. (Lihat Jalaluddin Rakhmat, 2004:51 atau lihat juga David Krech dan Richard S. Crutchfield, 1977:235)

Lupakan perbedaan penilaian kita. Mari lihat kenyataan bangsa ini. Mulai dari jumlah penduduk yang terus membengkak mencapai 240 juta jiwa, angka kemiskinan yang masih tinggi, korupsi, pengangguran, kriminalitas, kesehatan dan pelayanan kesehatan, kejahatan seksual, penurunan moral, tayangan TV yang tidak berkualitas, utang luar negeri yang meningkat Rp.400 triliun dalam empat tahun terakhir (walaupun dari sisi ratio utang terhadap GDP hal itu tidak jadi masalah), sampai kepada persoalan PLN, adalah sebagian dari sekian banyak dereten agenda yang harus diselesaikan.

Masih persoalan lama memang. Tapi, inilah yang terus mendera bangsa ini. Anda sudah tahu itu. Sebagian anda mungkin sudah malas mendengarnya. Dan saya tidak bermaksud untuk membahas masalah itu satu persatu saat ini.

Saya dan anda telah menentukan pilihan beberapa hari yang lalu. Terlepas dari pilihan saya dan pilihan anda itu menjadi pemenang atau tidak, presiden dari hasil “persalinan demokrasi” tahun 2009 ini telah (atau hampir) “dilahirkan”. Mari, kita semua jangan sampai mematikan sesuatu yang tidak boleh mati dalam diri kita, yaitu harapan.

Ya, harapan tidak boleh mati dalam diri kita. Kita juga sadar, menyelesaikan masalah bangsa ini tidak semudah membalik telapak tangan. Oleh karena itu, saya dan anda, terus berharap pemimpin yang “dilahirkan” adalah pemimpin yang punya niat baik dan dibantu oleh orang-orang yang punya niat baik pula, membentuk bangsa yang punya niat baik, menuju negara dalam situasi yang baik.

Kalau tidak, ritualitas “persalinan demokrasi” kita setiap lima tahunnya, benar kata Sjamsul, hanya akan membuat kita terus “terpaksa melahirkan seorang presiden”...


KONSULTASI BISNIS
Bagaimana Menemukan Ide dan Memulai Bisnis Anda?
Silakan menuju ke "RUANG KONSULTASI". Klik Disini!!

5 komentar:

patahati mengatakan...

pertamax neh, jadi bisa koment meski dikit tapi salut judulnya punya makna yang dalam jadi penasaran membaca sampe habis, terpaksa sepertinya lahir premature dan musti ditangani sama orang2 yg ahli...begitukah...??

Khery Sudeska mengatakan...

Hehe... Tergantung bagaimana cara anda menterjemahkannya, Riel. Silakan saja... Ini forum merdeka. It's Okay!

andrys note mengatakan...

artikelnya keren bgt euy,,,,,,,,,,,
bakalan sering mampir dah !!!!!!
main ke blog saya juga ya !!!

Khery Sudeska mengatakan...

@Andry: Ok, bozzz... Thanks, ya...

hill mengatakan...

hehe sy suka sekali judulnya "terpaksa melahirkan seorang presiden"mantabb nih artikel mengupas secara mendalam, trims infonya kawan.sukses selalu

salam

:)) :)] ;)) ;;) :D ;) :p :(( :) :( :X =(( :-o :-/ :-* :| 8-} ~x( :-t b-( :-L x( =))

Posting Komentar

Bagi sahabat-sahabat pembaca yang belum mempunyai Blog, anda tetap bisa berkomentar/bertanya disini. Caranya, pada "Select frofile..." pilihlah Name/URL. Tulis pada kotak Name dengan Nama Anda, dan kotak URL anda kosongkan saja. Tuliskan komentar/pertanyaan anda di dalam kotak komentar, lalu Poskan Komentar anda.

 
© Copyright by Blog Khery Sudeska  |  Template by Blogspot tutorial