31 Desember 2009

Individualisme Modernitas Palsu

Dulu, Pramoedya Ananta Toer, di suatu malam, menonton pertunjukan wayang di Pulau Buru. Hanya saja, ternyata Pram tak suka pertunjukan itu (demikian Goenawan Mohamad menggambarkannya dalam Catatan Pinggir). Sesuatu yang fiksi bagi Pram adalah sesuatu yang melenakan manusia dari realitas. Dalam sebuah buku, Pram mengejek pertunjukan itu sebagai sesuatu yang menghambat manusia menuju modernitas. Pram, amatlah memuja sesuatu yang bernama modernitas di atas segalanya.

Hari ini, sebenarnya, kita pun bisa balik mengejek Pram. Ketika kita bertemu dengan modernitas itu, ketika kita terjebak dalam blue print modernitas yang membatasi hubungan manusia dalam efektifitas dan efisiensi yang kaku, ketika modernitas terjebak dalam alat-alat, ketika modernitas mengacu kepada gaya hidup, ketika modernitas terjebak pada materi dan individualisme, ketika modernitas mengikis rasa kebersamaan, dan ketika modernitas yang salah kaprah itu membawa manusia pada kehidupan yang penuh dengan stress. Modernitas serupa itu, telah menciptakan kesadaran palsu.

Tujuan modernitas itu, akhirnya terjebak pada tujuan yang tak mengenal rasa puas dan tiada akhir. Yang berhasil terus berlari mengejar, mereka dikatakan pemenang, mereka dikatakan produktif. Yang terkalahkan stress dan putus asa, mereka pun dikatakan pecundang, mereka tak tertolong, karena dunia tercipta bukanlah untuk pecundang. Tak ada tolong-menolong. Sebab, defenisi hidup adalah persaingan. Persaingan yang semakin menebalkan rasa individualisme.

Kematianlah yang akhirnya menghentikan dan menghentakkan manusia pada sebuah kesadaran, bahwa ia telah terperangkap pada rutinitas hidup yang sia-sia. Kematianlah yang akhirnya menyadarkan manusia, bahwa ia telah melupakan yang pokok dan utama dalam kehidupan.

Banyak orang percaya, bahwa hidup adalah anugerah dari Tuhan, termasuk saya. Kalau sudah demikian, berarti hidup harus mampu dinikmati dan diresapi. Kenikmatan hidup baru akan terasa bila ada disiplin dalam persaudaraan, berkeja keras dalam kebersamaan, rasa cukup, perasaan yang positif, ketenangan jiwa, dan rasa syukur. Tak heran, untuk mencari kondisi serupa itu, kadang kita pergi ke sebuah kampung. Disanalah kita temukan adanya kesadaran waktu yang terus berjalan dan kesadaran akan fungsi kemanusiaan, bahwa hidup mengenal mati dan bahwa fungsi manusia adalah untuk menjadi kemaslahatan bagi sesama, bagi alam.

Yang demikian itulah modernitas yang sesungguhnya. Bukan alat-alat, bukan individualisme dan kesombongan, bukan gaya hidup, bukan pula ketergesaan mengejar sesuatu yang tak kunjung ada akhir, hingga kita lupa waktu dan lupa sesama.

Kini, sudah sepatutnya kita mulai sadar, bahwa hidup tak lah sesempit itu. Ciptakan arus balik melawan invidualisme dalam modernitas palsu itu. Buka ruang kembali untuk kebersamaan dan persaudaraan. Ciptakan kesadaran, bahwa hidup yang terbaik adalah memanfaatkan waktu hidup untuk berbuat yang terbaik dan menjadi berguna bagi banyak orang. Berjuang dan berkerja keras untuk membantu sesama. Sebab, hidup bukanlah individualisme.

Update: Agar maksud posting ini lebih jelas, silakan baca posting berikutnya tentang Arus Balik.


KONSULTASI BISNIS
Bagaimana Menemukan Ide dan Memulai Bisnis Anda?
Silakan menuju ke "RUANG KONSULTASI". Klik Disini!!

25 komentar:

heru mengatakan...

setuju sekali mas sudeska, memasuki tahun baru 2010, marilah kita mempunyai semangat yang baru, dan selalu berusaha untuk menghadapi kehidupan ini, semoga di tahun yang akan datang tinggal beberapa jam lagi akan mendapat suasana yang baru juga
selamat menyambut tahun baru 2010
semoga bertambah sukses selalu

heru mengatakan...

setuju sekali mas sudeska, memasuki tahun baru 2010, marilah kita mempunyai semangat yang baru, dan selalu berusaha untuk menghadapi kehidupan ini, semoga di tahun yang akan datang tinggal beberapa jam lagi akan mendapat suasana yang baru juga
selamat menyambut tahun baru 2010
semoga bertambah sukses selalu

nakjaDimande mengatakan...

benar sudes, menyadari bahwa kita akan kembali padaNYA. itulah modernitas.

arsumba mengatakan...

jangan sampai individualisme sampai tertanam dalam diri kita.. takutnya nanti kalau mati gak ada yang melayat... hehehe...

yayat38 mengatakan...

Menarik garis modrn saja ni Mas.
kadang saya suka terjebak sama kata ikut perkembangan jaman = bersikap modern. Padahal klo kita menelusuri beberapa artikel di blog ada banyak ragamnya dan saya salut kepada mereka yang mengemukakan apa adanya . Padahal mereka dan kita sedang melakukan hubungan dengan sarana di era kekinian (jaman modern katanyah). Substansinya yang telah memberikan pelajaran yang banyak. Modernitas telah menempatkan mereka dimana kebaikan dan kejujuran adalah yang perlu disampaikan. Hubungan antar manusia yang sedang dibangun. Satu hal yang menjadikan kekurangannya kita akrab di dunia maya ini namun frekwensi berhubungan dengan tetangga di area RT agak sedikit berkurang.
Terima Mas, betul2 diingatkan di artikel ini.

wempi mengatakan...

Selamat tahun baru semoga tulisan di atas bisa jadi realita.

arkum mengatakan...

Numpang nimbrung ms sudeska.Istilah modernitas sebenarnya hanya mengacu pada "perkembangan zaman untuk keluar dari zaman sblmnya,tradisionalisme". yang artinya pola pemikiran (IP, teknologi,tingkat taraf hidup mulai berubah semakin maju. Dan istilah "maju" inipun tidak identik dg individualisme dan gaya hidup yg salah. Kl tetep bgitu ms sudeska, y sama aja msk zaman modern tapi pola pikir dan gaya hidupnya tetep tradisional.Msh banyk yg perlu dipelajari bg orang2 yg salah kaprah dlm menangkap apa substansi modernisme

Berry Devanda mengatakan...

sebagian orang justru rancu mengartikan modernisme...
sebagian lagi modern nanggung, individualnya iya...

nice post...

hpnugroho mengatakan...

sepatutnya kita mensikapi gaya hidup yang terkungkung didalam lingkungan modernitas dengan gaya hidup bersahaja, pola tradisonal tidak melulu harus dengan gaya kuno,tetapi lebih kepada sikap sederhana tanpa harus selalu mengikuti kemajuan jaman, karena adakalanya justru modernitas justru menjerumuskan ....

selamat tahun baru sahabat, semoga tahun ini lebih baik dari yang kemarin ..

Agus Siswoyo mengatakan...

Posting ini mengingatkan saya pada tugas Sastra dulu. Pak Pram adalah sosok yang unik. Melihat sesuatu tidak hanya dari sekedar seni secara phisically.

Kalau saya pribadi, modern adalah disiplin dan manajemen diri yang tangguh. Kalau tidak ada dua sikap tersebut, bersiap-siaplah dilibas yang lain.

Posting yang menggugah semangat saya...! :D

Khery Sudeska mengatakan...

@heru: Moga esok lebih baik, Mas Heru... :)

@nakjaDimande: Tepat dan setuju kali, Made... :)

@arsumba: Betul, Mas. Jangan sampai demikian. :D

@yayat38: Saya juga dapat masukan dan peringatan dari tambahan Kang Yayat itu. Di dunia maya kita akrab, tapi perlu juga dikoreksi hubungan kita dengan sesama tetangga samping rumah. Betul, Kang. Saya setuju... :)

@wempi: Mudah2an, Bro. Amin... :D

@arkum: Menurut saya, modernitas itu bukan alat2, Mas. Tapi, kesadaran waktu dan fungsional manusia sebagai makhluk Tuhan di muka bumi. Modernitas sekarang ini membuat kita terjebak pada alat2 dan gaya hidup, hingga tercipta semangat individualisme. Alat2 itu yang memacu manusia pada gaya hidup dan gengsi. Gengsi itu tak lebih dari hawa nafsu. Kehancuran banyak kejayaan dan ummat di muka bumi menunjukkan bahwa adanya penempatan hawa nafsu di atas akal dan hati nurani. :)

@Berry Nevada: Maksudnya, Mas? :)

@hpnugroho: Saya kira pemahaman tentang semangat modernitas itu saja yang keliru, Mas Nug. :)

@Agus Siswoyo: Disiplin dan kapasitas diri itu malah wajib, dan persaingan itu pun sah-sah saja. Hanya saja, fungsi manusia untuk maju itu kan untuk menjadi kebaikan bagi sesama, menjadi rahmat bagi sekalian alam. Jangan sampai semangat modernitas itu terjebak pada individualisme. Selanjutnya, kita lupa akan rasa kebersamaan dan persaudaraan. Yang tergilas dan tak berdaya semestinya kita bantu untuk juga sama2 maju, buka sebaliknya diabaikan. Ada kewajiban yang mampu untuk menolong yang lemah. Kesadaran ini mulai luntur, karena modernitas terjebak pada semangat individualisme tadi. :)

belajar bisnis internet | hill mengatakan...

saya ngambil point yg terakhir aja dehh :D :D sebagai pesan utk seluruh komponen bangsa ini : Ciptakan kesadaran, bahwa hidup yang terbaik adalah memanfaatkan waktu hidup untuk berbuat yang terbaik dan menjadi berguna bagi banyak orang. Berjuang dan berkerja keras untuk membantu sesama. Sebab, hidup bukanlah individualisme

btw blog sudeska.net jg dpt pr 3, silahkan di cek :D

Khery Sudeska mengatakan...

@hill: Saya udah tahu, Kawan. :D Cuma, alexa saya beberapa hari ini nggak mau langsing. Itu yang bikin saya stress... :))

wasyoko mengatakan...

setuju sekali.bukan ciri kita.

Ruang Hati mengatakan...

Renung jiwa saat malam berganti siang
Awan biru seakan tak mau berpisah
Angin pun bertiup ungkapkan sebuah hasrat
Burungpun ingin berenang bersama ombak
Pasir tak mau terpisahkan oleh pantai
Semua ingin menatap hari esok
Suara riuh gundah sepanjang malam
Menyambut suasana haru yang terdalam
Akankah hadirku membawamu terbang
Lambaian tanganku menemani langkahmu
Peluk eratku mendekap kehadiranmu
Tahun yang lalu adalah guruku
Tahun yang akan datang adalah asaku


Ruang Hati Berbagi
===============
http://ruanghati.com

idham mengatakan...

modernitas bagus sepanjang didukung oleh sikap mental manusianya yang baik, agama toh tidak menolak modernitas, ilmu pengetahuan sangat dianjurkan...

IwanKus mengatakan...

saya ikutan membaca saja deh mas...
agak2 berat nih buat saya hihihi...

joko santoso mengatakan...

Hidup itu indah, kenapa banyak orang bunuh diri. Wkwkk wk wk wk

Belajar Blog mengatakan...

walaupun hidup dengan rutinitas yang diikuti dengan pola hidup modern, kita harus sadar sapa diri kita sebenarnya. Kita harus sadar bahwa kita hanya seorang manusia yang hidupnya tidak akan pernah kekal
tulisan yang menarik nih mas

lingkungan kita mengatakan...

banyak orang terlalu memuja modernitas..sehingga lupa diri....artikelnya menarik mas.

Khery Sudeska mengatakan...

@idham: Setuju sekali, Mas. Saya suka sekali pendapat anda. Trims atas tambahannya. Saya akan jelaskan lebih jauh tentang posting ini di posting saya berikutnya. Insya Allah terbit besok... :)

tetenw(blog sehat) mengatakan...

Posting yang membangun Mas ...

Hariez mengatakan...

pas klik link blog ini tadinya mau langsung komen di new artikel tapi entah kenapa mata ini sangat tertarik sama tulisan yang ini ;;)

hufhh...sebenarnya kalo menurut pandangan pribadi aya, semua dikembalikan kepada sebuah pemikiran individu masing-masing, jika memang penganut moderenitas ya seharusnya jangan bersika seperti apa yang dilakukan oleh Pramoedya seolah-olah mengejek kaum minor yang notabene dia pun sebenarnya bagian dari minoritas itu sendiri dan itu semua hanya perbedaan pandangan yang tak berarti di mata Tuhan, bukan begitu Kang ? :D

fadly muin mengatakan...

bicara modernitas, memang butuh ruang yang lebih luas, butuh perspektif yang lebih utuh. namun akan terlalu luas di ungkap disini.

sedikit berpendapat mas sudeska,
sejak dulu saya kesulitan mencerna modernitas, posmodernitas dan induvidualitas. saya melihat masih ada perdebatan di tingkat lanjut.ada pendapat yang mengatakan bahwa ketiganya adalah perjalanan historis yang mesti di lalui.. tapi pada kenyataannya, justru terjadi benturan disana-sini.

sebab ternyata modernisasi tidak bisa menjawab kegelisahan sosial. tujuan modernisasi seingat saya adalah menciptakan kehidupan yang lebih teratur, baik dari infra struktur maupun dalam penataan dan keteraturan sosial itu sendiri.

tapi ternyata modernisasi menciptakan semacam gelombang yang berusaha mengkerdilkan individu sehingga satu sama lain terjadi kerenggangan akibat kuatnya rasionalisasi bahan pencerna modernisasi..

walah kepanjangan... tks mas sudah berbagi artikel yang berkesan ini.

bundadontworry mengatakan...

Setuju sekali Mas Sudes, modernisasi diri utk kembali selalu kepadaNYA.
salam.

:)) :)] ;)) ;;) :D ;) :p :(( :) :( :X =(( :-o :-/ :-* :| 8-} ~x( :-t b-( :-L x( =))

Posting Komentar

Bagi sahabat-sahabat pembaca yang belum mempunyai Blog, anda tetap bisa berkomentar/bertanya disini. Caranya, pada "Select frofile..." pilihlah Name/URL. Tulis pada kotak Name dengan Nama Anda, dan kotak URL anda kosongkan saja. Tuliskan komentar/pertanyaan anda di dalam kotak komentar, lalu Poskan Komentar anda.

 
© Copyright by Blog Khery Sudeska  |  Template by Blogspot tutorial